Senin, 25 Juli 2016



JERAT CERMIN







Aku berdiri di depan cermin. Tubuhku tak tampak disana. Hanya seorang wanita cantik yg selalu membuatku iri. Aku menatap sinis wanita di balik cermin itu. Ketika lenganku bergerak ia selalu mengikuti apa yg kulakukan. Seperti saat ini ketika aku tersenyum ia membalas senyumanku. Kugenggamkan jari2 tanganku dengan kuat. Aku mengepal ke arah cermin. Wanita itu mengikuti apa yang kulakukan. Hanya tangannya lebih halus dan putih dari tanganku. Bahkan kuku2 indahnya berbanding terbalik dengan punyaku yg tajam dan hitam. Rambutku yg terburai tidak teratur berbeda sekali dengannya yg tertata rapi bahkan hitam tergerai indah. Aku tidak berani membandingkan tubuh dan wajahnya. Semua seperti langit dan bumi. Aku yg keriput dengan cekungan mata besar dan hitam dengan bola mata kemerahan dan hidung pesek. Berbeda dengan kulit wajahnya yg halus.


Mata sayu dengan bulu mata lentik, serta hidung mancungnya. Bibirnya yang tipis dan barisan gigi rapi nan menawan seakan menertawakanku yg bermulut sumbing dengan gigi tak beraturan serta sepasang taring di sudutnya.
“Sialan” aku mengutuk diri sendiri.
Apa yg kulihat bukanlah diriku lagi. Aku kini jelek dengan bentuk tubuh tak beraturan. Bahkan sobekan di punggung membuat tulang rusukku menyeruak. Kakiku bengkok dan pincang. Sebagian masih lengkap dengan tulang dan daging, sebagian lagi hanya tersisa tulangnya saja. Telapak kaki kananku hilang dan kuganti dengan tongkat kayu yg mulai lapuk. Jangan berpikir tentang keindahan tubuhku saat ini. Sangat kontras dengan wanita yg berdiri tegak di balik cermin.
“Tak lama lagi aku akan kembali” Aku mendengus.
Kusentuh cermin itu. Aku bisa melihat pundaknya yg halus.



Ia memakai pakaian yg sudah pasti membuat laki2 terjerat oleh tubuhnya. Bahkan hanya dengan kerlingan mata tidak ada yang bisa menolak ajakan nakalnya.
Itulah yg tampak pada dirinya. Wanita idaman dan pujaan kaum laki2. Semua yg tampak padanya sangat sempurna untuk sekedar menjadi seorang wanita di bumi. Ialah jelmaan bidadari dari langit. Itulah yg sering kudengar dari mulut2 kotor di tepi jalan. Aku tahu dia bukan wanita murahan seperti apa yg mereka pikirkan. Hanya saja aku juga tidak bisa menampik kalau dia telah berpredikat kotor. Bukan karna tingkah lakunya namun sebuah jerat yg menimpa dirinya puluhan tahun lalu. Kini aku yg jelek akan menjadi dirinya. Aku akan membalaskan setiap kebencian yg terpancar dari matanya. Aku juga dipenuhi dendam sama seperti dirinya. Aku kembali menyeringai.



Kupandangi jemari hitam yg kini berdampingan dengan telapak halus miliknya dibalik cermin. Aku ingin merasakan jemari lembut itu itu mengusap tubuhku. Sudah lama sekali sejak kejadian yg membuatku harus hidup di antara dua dunia.
“Aku ingin kembali cantik!”
Dia mengangguk untuk menunjukkan persetujuan terhadap apa yg akan kulakukan.
“Lakukan apa yg kamu inginkan! Kamu akan menjadi diriku. Menjadi Jehan sang bidadari. Membuat iri para wanita karena laki2 lebih memilihmu. Balaskan kebencian dan dendamku!” kata wanita itu dengan mata tajam.
Kami saling beradu. Aku bisa melihat garis yg menghubungkan tatapanku dengan bola mata indahnya. Aku mengangguk dengan mantap. Sebuah persetujuan telah terjadi di antara kami.
“Kamu akan menjadi cantik kembali”
Aku tidak peduli. Apapun yang terjadi aku harus menjadi cantik.



Akan kubuat semua laki2 merasakan dendamku. Aku menjulurkan lidah panjang yg basah dengan air liur. Kujilat tubuhnya dari balik cermin. Aku kembali mendengus. Tatapan mata penuh kebencian menyerangku. Aku tak peduli dengan tingkahnya yg juga ikut bergerak seiring alur jilatan yg kubuat. Dia tertawa. Sebuah gelas pecah akibat tawa kerasnya. Kuambil pecahan gelas itu. Kugoreskan tepat di pergelangan tangan. Tidak ada darah yg muncul disana. Hanya kulit terbuka penuh nanah yg terburai. Aku tersenyum. Kulempar kembali pecahan itu dan kali ini menimpa cermin besar itu. Kuambil tongkat hitam di belakangku, lalu kuayunkan ke arah cermin. 'Prang' Suara pecah yg keras timbul akibat hantamanku. Cermin itu pecah berkeping2. Jatuh ke lantai tanah. Kuambil serpihan paling besar. Kutatap wajah cantik itu yg diraut oleh goresan retak akibat hantamanku.



Aku tersenyum begitu juga dirinya. Beberapa saat kemudian tidak ada lagi wajah cantik di balik pecahan cermin. Hanya bayangan mengerikan yg penuh luka. Semua terselimut oleh darah yang menetes. Bahkan dibalik matanya mengalir darah lembut seperti air mata. Namun lebih kental dan tidak bening.
“Akan kulakukan semuanya untukmu”
Jo, kucing kesayanganku terkejut dengan kehadiranku. Ia segera melompat kembali ke meja. Dengan kepala tegak ia melihat aku yg duduk di samping Adi. Kubiarkan mata itu tak terpejam. Aku mengusap lembut leher Adi. Tak ada penolakan darinya, ia telah pasrah oleh tingkahku. Kubuka jaket yg menutupi tubuhnya. Aku mulai meraba dadanya yg masih berdetak.
“Kamu baik sekali! Bersedia menjadi milikku selamanya. Semuanya akan berjalan cepat. Tak akan ada rasa sakit. Kamu pasti suka” kataku lembut tepat di samping telinganya.



Tangan kananku segera bergerak dan meloncat lepas dari pergelangannya. Ia merayap di sekujur tubuh Adi dari kepala hingga kaki. Aku merasakan apa yang ada di dalam tubuh laki2 ini. Sesuai dengan keinginanku semua berjalan lancar. Kupandangi wajah polos itu. Inikah wajah yang setiap saat bisa berubah. Dari polos tak berdosa menjadi siap memangsa.
“Aku tahu yang kamu inginkan namun keberuntungan tidak bersamamu. Saatnya aku menjadikan dirimu korban n*fsuku"
Mendadak tubuh Adi bergetar. Tangan kiriku sudah ada di lehernya. Ibu jari menusuk dan darah segar mengalir di sela2 kulit. Kubiarkan darah itu mengalir membasahi dadanya. Terlihat segar. Aku tahu malam akan segera usai jadi semua kulakukan dengan cepat. Kudekatkan wajahku kelehernya. Tubuh Adi semakin bergetar hebat. Ia tak berteriak ketika darah di tubuhnya semakin berkurang.



Hingga ia terkulai lemas. Matanya menutup perlahan. Kuhirup wangi bekas gigitanku di lehernya. Semua berlangsung cepat. Kubersihkan sisa2 darah yg masih menempel di mulutku.
“Sekarang giliran kamu” kataku kepada Jo.
Kucing itu melompat sigap dan melakukan apa yg baru saja dilihatnya dan melakukan persis seperti diriku. Ada jemari yang menggelitik tengkukku. Aku segera menangkap jemari itu dan menyatukan lagi di tangan kanan. Sesuatu berada di genggaman tangan kananku. Aku mengerutkan dahi. Sangat berbeda. Mungkin Adi ini masih polos sehingga tidak seperti laki2 lain.



“Jadi siapa namamu? Aku lupa” tanya Gio.
Ia merasa pernah mengenalnya. Ia tak ingat apakah benar mengenalnya atau hanya khayalan saja.
“Namaku Jehan!” kata wanita itu. 
Gio tak menampik kecantikan Jehan. Sungguh sempurna. Bahkan lebih dari bidadari. Perlahan ia mendekatkan duduknya agar bisa mencium aroma parfum khas yg keluar dari tubuh Jehan.
“Kamu berlibur disini? Yg jelas kamu bukan rombongan dari kampus kami. Karena aku baru pertama kali melihatmu” ucap Gio dengan nada meyakinkan.
Jehan tersenyum. Ia terbiasa oleh tingkah laki2 ketika berhadapan dengannya.
“Aku menginap disana itu milik pamanku” kata Jehan sambil menunjuk bangunan diatas bukit kecil. Gio terperajat ketika mengalihkan pandangan ke arah yg ditunjuk Jehan. Ia tak melihat apapun dari kemarin di bukit sana dan kini tiba2 sebuah vila megah berdiri diatas bukit itu.



“Aneh kenapa aku gak liat ada vila disana. Kemarin sempat jalan2 lewat bukit itu,” desah Gio.
Namun pikiran itu segera disingkirkannya. Ia merasa mungkin penglihatannya terganggu atau ia kurang teliti memperhatikan sekitar.
“Kamu sendiri disana?” tanyanya lagi kepada Jehan.
Udara dingin pegunungan menambah sesuatu yg lain dipikiran Gio. Ia sadar wanita secantik Jehan akan menjadi rebutan laki2 dimanapun dia berada. Tetapi tidak untuk sekarang, hanya ada Gio. Jadi sebuah kesempatan terpampang di depan mata.
“Ya aku sendiri! Ayahku pulang pagi ini karna urusan kantor. Sedangkan liburanku masih panjang jadi aku menikmati kesendirian disana,” jawab Jehan sambil tersenyum lebar.
“Oh begitu” Gio menanggapi ucapan itu dengan penuh maksud.
“Eh udah dulu ya! Aku harus kembali!” sergah Jehan membuyarkan lamunan Gio yg belum tuntas.



“Silahkan, senang berkenalan denganmu!” sahut Gio dengan senyuman lebar.
Jehan segera meninggalkan Gio yg masih terpaku oleh langkah kaki wanita itu. Pandangan matanya mengekor setiap tubuh Jehan yg semakin menjauh. Ia terus melihatnya hingga di ujung jalan tepat di samping vilanya. Tak ada yg aneh disana hingga sebuah angin tiba2 mendesak tubuh Gio untuk berlindung. Gio segera berdiri dibalik pohon besar. Angin itu terus berhembus dan semakin besar. Dahan dan daun2 pohon itu beterbangan.
“Aw” teriaknya ketika sebuah ranting besar menimpa punggungnya.
Angin itu telah berlalu. Gio melihat sekeliling. Matanya terperajat dan seolah tak percaya pada apa yg baru saja terjadi. Tak ada bekas ranting maupun daun yg jatuh tertimpa angin. Bahkan pohon tempat dirinya berlindung ternyata lebih kecil dari perkiraannya.



Pohon itu tidak mampu menutupi tubuhnya jika terjadi angin kencang. Gio mengedarkan pandangan matanya. Ia masih mengenal jalan tempat vila rombongannya. Namun ada yg aneh. Dimana vila megah dibukit itu? Ia tak melihatnya lagi. Tak ada vila yg baru saja ditunjuk wanita bernama Jehan. Gio menatap kosong bukit itu. Matanya tidak salah. Masih seperti ketika ia pertama kali tiba kemarin. Tak ada bangunan apapun disana.
“Jehan” mulutnya menyebut nama itu.
Aku tersenyum melihat laki2 yg bernama Gio. Diatas sebuah pohon aku bisa melihat dia dengan jelas. Aku tertarik olehnya. Namun Adi yg baru saja menjadi korbanku sudah sangat berlebih.
“Lebih baik aku tidak mengganggunya dulu”
Kuhembuskan sebuah angin besar yg keluar menerpa tubuh Gio. Terpaannya cukup untuk menggoyahkan tubuh laki2 itu. Aku melihat dia berlindung di bawahku.



Dia tak menyadari kehadiranku. Aku hanya tersenyum. Sungguh lucu memandang tingkahnya yg sedang membungkuk seolah angin itu ingin menghamburkan tubuhnya.
Kuambil sebatang dahan yang lumayan besar lalu kujatuhkan tepat di punggungnya. Dia terkejut dan menatap ke atas pohon. Aku tersenyum dan membalas tatapannya. Mungkin dia tidak melihatku diatas sini. Kutinggalkan Gio yg masih penasaran oleh kejadian angin yg baru saja menimpanya. Aku menatap ke vila dibukit itu. Sudah lama tak berkunjung kesana. Berbeda dengan vilaku yg lusuh dan kotor. Vila itu sangat rapi dan bersih. Pamanku memang merawat vila itu dengan baik.
“Terimakasih Gio!” Aku berkata lembut di telinganya sebelum pergi menjauh. Kujatuhkan sepucuk kertas untuk memberitahu keberadaan temannya Adi. Semua panik dan cemas oleh penemuan mayat Adi di sebuah gubuk tua.



Gio hanya tertegun tangannya meremas gemetar kertas yg telah mempertemukan sahabatnya dalam kondisi tak bernyawa. Polisi yg menyusuri tepat itu tidak melihat sesuatu yg mencurigakan. Namun kematian Adi serasa aneh.  Tubuhnya masih utuh padahal telah seminggu dia menghilang dan tak ada bekas luka apapun. Semua tampak wajar dari luar namun tidak dengan bagian organ dalam tubuhnya. Jantung Adi tidak berada ditempatnya. Seolah ia hanya robot berbentuk manusia. Tak ada darah yang membeku. Semua kosong. Gio semakin takut oleh peristiwa ini. Dua hari yg lalu tanpa sengaja dia melihat wanita yang mirip Jehan. Tepat didalam rombongannya sebelum beranjak meninggalkan daerah ini. Ia membaca isi kertas itu untuk ketiga kalinya.



“Lima puluh meter sebelum tikungan dari vilamu, ada sebuah gubuk tua. Sahabatmu ada disana. Aku tidak janji dia masih bisa tersenyum. Sebaiknya kamu segera kesana sebelum terlambat.
Dan jangan lupa kalau aku selalu melihatmu. Tersenyumlah ketika aku menemuimu. Aku kesepian mungkin aku akan membawamu ke vila megah yg pernah kutunjukkan padamu. Tentu saja tidak sekarang. Karena aku masih menikmati darah dan jantung segar dari sahabatmu”
Tangan Gio bergetar hebat. Kertas itu jatuh terinjak oleh kerumunan orang yg mengerubuti penemuan mayat sahabatnya. Ia sadar mengapa jantung Adi tidak berada di tempat semestinya.


TAMAT



Next
This is the most recent post.
Posting Lama

0 Comments:

Posting Komentar

 
Toggle Footer